Rabu, 07 April 2010

Analisa Sidik Jari

Analisa sidik jari adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi, motivasi, karakter, dan gaya belajar anak.

Dalam ilmu Dermatoglyphics (ilmu tentang analisa pola sidik jari) yang diawali oleh Guard Bidloo pada tahun 1685, menemukan bahwa sejak usia kandungan 13 minggu Pola sidik jari manusia telah terbentuk, dan akan lengkap diusia 24 minggu. Dalam kenyataannya pola sidik jari manusia tidak ada yang sama, kemungkinan kesamaannya adalah 1:64.000.000.000.

Secara Genetis sidik jari bersifat menetap dan spesifik pada proses perkembangan susunan syaraf pusat, sehingga memiliki korelasi yang menentukan struktur otak yang dominan yang kemudian diinterpretasikan secara psikologi untuk mengetahui kecendrungan BAKAT, KECERDASAN, KARAKTER, MOTIVASI, TEKANAN, TINGKAT KESETABILAN DIRI, DAN GAYA (BELAJAR, BERFIKIR, DAN BEKERJA) secara genetis.

Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibadingkan dengan metode pengukuran lainnya (klaim akurasi 87%). Sehingga aplikasi penggunaan ilmu analisa sidik jari dalam kehidupan sangat luas. Salah satunya adalah pada proses intdentifikasi forensik dan keamanan. Proses analisa sidik jari simple, praktis, efesien, dan aplikatif. Bisa digunakan untuk segala usia segala kondisi dengan waktu yang relatif singkat.

Analisa sidik jari bukan ramalan !!!

Analisa sidik jari bukan ramalan yang dilakukan oleh dukun. Perbedaannya adalah :
  • Tes sidik jari mengunakan ilmu DERMATOGLYPHICS dan peramal mengunakan ilmu PALMISTRY
  • Tes sidik jari bertujuaan mengungkap Potensi Genetik sebagai reperensi untuk menentukan sukses di masa yang akan datang, dan ramalan bertujuan untuk mengetahui keadaan masa yang akan datang.
  • Tes sidik jari berdasarkan teori ilmiah dengan menggunakan metode dan sumber data ilmiah serta proses perhtungan yang logis dan tranfaran.
  • Dalam pengujian hasil akhir tes Sidik Jari ditunjang berdasarkan statistika dengan melibatkan ilmu Anatomi, Genetika Kedokteran (khusus fungsi bagian otak), Psikologi Modern yang diaplikasikan dalam sistem Kompoterisasi Biometrik

Manfaat analisa sidik jari bagi otang tua

Analisa sidik jari membantu para orang tua diantara manfaatnya adalah:
  1. Dapat membimbing belajar sang anak dan memilih kurikulum belajar yang lebih baik berdasarkan pemahaman keunikan talenta genetik sang anak dan juga gaya belajar ideal yang dia punya.
  2. Mengetahui potensi anak dalam hal kekuatan dan kelemahan terbesarnya.
  3. Orang tua bisa membantu sang anak menajamkan keterampilan dan bakat khususnya yang dimilikinya, menguatkan jalinan sinapsis yang ada di otak sang anak.
  4. Menghindari adanya potensi ketimpangan kompetensi yang jauh antara potensi yang kuat dan yang lemah yakni di kala satu kompetensi berada dalam jeda amat jauh dengan yang lain.
  5. Mengembangkan sirkuit neurologis anak agar dapat berkembang secara sempurna sejak dini.

Baca juga;
    Manfaat analisa sidik jari bagi anak  
    Tujuan analisa sidik jari
    Mengapa tes analisa sidik jari 

    Manfaat analisa sidik jari bagi anak

    Analisa sidik jari sangat bermanfaat bagi putra-putri anda:
    • Mengidentifikasi karakteristik dan gaya belajarnya,
    • Mengidentifikasi talenta (dan kelemahan) bawaaanya,
    • Merancang model pembelajaran khusus untuknya,
    • Mengurangi biaya dan waktu percuma untuk program khusus,
    • Membangun rasa percaya diri anak,
    • Meningkatkan kualitas hubungan antar orang tua dan anak,
    • Memberikan masa kanak-kanak yang bahagia.

    Tujuan analisa sidik jari

    Diantara tujuan analisa sidik jari adalah:
    • Sensitivitas daya tangkap seseorang atas informasi yang dia terima melalui panca indera dan bagaimana otak memprosesnya.
    • Kecenderungan dan respon seseorang atas stimulasi-stimulasi yang dia terima dan bagaimana otak memprosesnya dalam bentuk tindakan.
    • Gaya berfikir yang paling dominan berdasarkan belahan otak kanan-kiri (brain hemisphere) dan mengungkap kecenderungannya dalam proses pengambilan keputusan.
    • Komposisi distribusi nerve pada fungsi-fungsi bagian otak sehingga diketahui daerah stimulasi mana yang paling sensitif pada bagian otak: frontal lope, parietal lope, occipital lope dan temporal lope dan dikaitkan dengan kecenderungan skill seseorang yang paling cepat untuk diserap dan dilatih.
    • Mengenal potensi dasar diri sendiri, termasuk karakter kepribadian dan gaya pengambilan keputusan dan tindakan.
    • Mengetahui potensi kelemahan, kecenderungan dominasi distribusi dan kekurangan keseimbangan peta stimulasi fungsi-fungsi bagian otak dan kecenderungan karakter dan kaitannya dalam membina komunikasi dan relasi dengan orang lain.
    • Sebagai bahan referensi dalam menganalisa diri dan membuat perencanaan kehidupan masa depan yang lebih efektif.
    • Menentukan masa depan secara lebih pasti, pendidikan paling efektif dan karier yang paling potensial untuk ditekuni.
    • Mengetahui potensi, kecerdasan, karakter dan motivasi yang bersifat genetic.
    • Mengetahui gaya dan metode pembelajaran yang paling efektif memiliki referensi dalam menganalisa potensi diri, kekuatan dan kelemahan.
    • Mengembangkan bakat yang dominan agar berprestasi sebagai pedoman untuk memilih sekolah, jurusan dan cita-cita sesuai dengan potensi yang dimiliki
    Banyak lagi manfaat yang didapat ketika kita telah menganalisa sidik jari.

    Area pengukuran intensitas fingerprint dan interpretasi psikologi

    Area pengukuran intensitas fingerprint dan interpretasi psikologi:
    Motivation and Basic Needs:
    • Theory Hierarchy of Needs by Abraham Mashlow
    • Pengembangannya, yakni ERG Theory
    • Fungsi bagian otak berdasarkan Theory The Triune Brain
    • Riset Dermatoglytphics, data stastitikal
    • Studi empiris
    Character Traits:
    • Theory Carl Jung
    • Pengembangannya, yakni Theory MBTI, Theory DISC
    • Fungsi bagian otak berdasarkan Theory Brain Hemisphere
    • Studi empiris
    Potentials Skill / Intelligences :
    • Theory Multiple Intelligence by Howard Garder
    • Pengembangan theory bidang HR, bisnis populer dll, antara lain: R. Kyosaki
    • Fungsi bagian otak berdasarkan Theory Cerebral Lobes
    • Study empiris
    Personal Drive :
    • Sistem neuron, neuro sensorik, neurotransmitter.
    • Study empiris

    Menghubungkan Ilmu Dermatoglyphics, Neuroscience dan Psikologi

    • Riset mengenai pola pembentukan dan struktur sidik jari di tiap area dan jari-jari dan telapak pada tangan kanan serta tangan kiri dan kiri serta jari kaki kanan serta kaki kiri;
    • Riset berdasarkan penemuan dan data statistik ilmu dermatoglyphics dari kalangan psikologi yang menyatakan bahwa pola-pola sidik jari menyatakan hubungan dengan perilaku tertentu;
    • Riset menganai penemuan dan data statistik kalangan medis mengenai kelainan-kelainan genetis berdasarkan pola-pola sidik jari;
    • Riset mengenai neurologi hubungan sistem syaraf yang tercermin pada pola-pola pembentukan sidik jari berupa epidermal ridges dan hubungannya dengan pertumbuhan sel syaraf;
    • Riset mengenai neurologi hubungan pola-pola sidik jari pada tiap bagian ke fungsi bagian otak.

    Korelasi sidik jari (finger print) dengan sistem syaraf


      Studi neorologi mengenai struktur dan perkembangan otak


      Perkembangan evolusi otak, dikenal teori The Triune Brain, dimana evolusi otak terbagi menjadi:
      • Brain Stem (batang otak), atau dikenal sebagai otak reptil
      • Sistem Limbik, atau dikenal sebagai otak mamalia
      • Neo Cortex, atau dikenal sebagai otak modern/otak kera
      Struktur belahan otak, dikenal teori Brain Hemisphere, dimana, belahan otak terbagi menjadi:
      • Belahan otak (hemisphere) bagian kiri, yang memiliki fungsi koordinasi organ bagian kanan
      • Belahan otak (hemisphere) bagian kanan, yang memiliki fungsi koordinasi organ bagian kiri
      Struktur otak secara vertikal dan horisontal bagian cerebral lobes. Dimana otak dibagi menjadi:
      • Pre-Frontal Lobe
      • Frontal Lobe
      • Parietal Lobe
      • Temporal Lobe
      • Occipital Lobe

      Selasa, 06 April 2010

      Penelitian Neuroscience (ilmu syaraf) dan Dermatoglyphics (analisa sidik jari)

      Khalangan ilmuwan dermatoglyphics (analisa pola sidik jari) berbasis neurologi, meneliti mengenai struktur sidik jari dari ini berdasarkan :
      • Pola awal pembentukan dan pertumbuhan sidik jari. Sidik dari ditemukan telah terbentuk dalam janin di kandungan berusia 13 minggu dan berakhir sampai dengan 19 minggu; 
      • Pembentukkan pola sidik jari ditentukan oleh DNA khusus, dan tidak dipengaruhi adanya intervensi faktor lingkungan;
      • Pembentukan pola sidik jari ditentukan oleh tekanan dibawah kulit yang dipengaruhi oleh tekanan dibawah kulit , terdapat kaitan dengan hormon perkembangan, dan sistem syaraf pusat;


      • Pembentukan pola sidik jari berkaitan dengan pembentukan/perkembangan otak dalam kandungan;


      • Ditemukan adanya faktor Nerve Growth sebanding dengan faktor Epidermal Growth, dimana jumlah epidermal ridges mencerminan jumlah perkembangan neuron;

      Mengapa Tes Analisa Sidik Jari (Finger Print)

      Mengapa harus ke Analisa Sidik Jari (Finger Print) ???
      Analisa sidik jari memiliki beberapa keunggulan;
      1. Spesific, tidak ada pola sidik jari yang sama di tiap manusia;


      1. Permanent, pola sidik jari tidak pernah berubah sepanjang hayat;


      1. Classified & Measurable, pola sidik jari memiliki spesifikasi unik di tiap bagian-bagian jari tangan, kaki dann telapak.
       


      Selain itu juga analisa sidik jari simpel, praktis dan efisien. Tidak ada pertanyaan yang sifatnya subyektif serta tingkat akurasi paling tinggi (88,9 %)

      Perkembangan dan Kegunaan Analisa Sidik Jari (Finger Print)

      Perkembangan Analisa Sidik Jari (finger print) pada saat ini;
      1. Alat identifikasi forensik, sebagaimana dikembangkan oleh kepolisian dan FBI, dan pengembang sistem absensi sidikjari;
      2. Penelitian sudut pandang antropologi. Diantaranya Frans Galton, John E Purkinje.
      3. Penelitian medis mengenai kelainan kesehatan mental secara genetik. Diantaranya Harold Cummins
      4. Penelitian dari sudut pandang psikologi. Diantaranya Beverly C. Jeager, Charlotte Wolff


      Sementara itu, analisa sidik jari sudah dikenal lebih dari ribuan tahun dalam kebudayaan Cina, India dan Latin dsb dalam bentuk kepercayaan terhadap kondisi peruntungan dan keselamatan seseorang.

      Pengelompokan Pola Sidik Jari

      Perkembangan ilmu Analisa Sidik Jari atau dermatoglyphics telah mengelompokkan pola-pola sidik jari berdasarkan struktur-stuktur yang ada pada sidik jari. Tipe-tipe sidik jari dikenal menjadi :
      1. Simple Arch
      2. Tented Arch
      3. Ulnar Loop
      4. Radial Loop
      5. Peacock Eyes
      6. Composite Whorl
      7. Plain Whorl: Consentric, Spiral, Oval
      8. Double Loop
      9. Varian




      Pengelompokkan utama analisa sidik jari atau pola-pola sidik jari berdasarkan klasifikasi Harold Cummins, berdasarkan pattern area dan kehadiran titik-titik triradius (delta)
      a. Arch
      b. Loop
      c. Whorl


      Sejarah Ilmu Analisa Sidik Jari (Dermatoglyphics)

      Analisa Sidik Jari (Dermatoglyphics) is a part of the biology, containing genetics and anatomy. Prints include loops and whorls on a finger, a palm and a foot that form and grow from a germinal layer starting from the 13th to 19th weeks in an embryo period. The fingerprint patterns are controlled by chromosomes, and geneticists have studied and proven that permutation of the prints is inherited. The number of ridges on a finger is decided by genes, which do not have dominant effect, rather than environmental influence.


      John Evangelist Purkinji – 1823
      In 1823, John Evangelist Purkinji, a professor of anatomy at the University of Breslau, published his thesis discussing 9 fingerprint patterns, but he too made no mention of the value of fingerprints for personal identification.
      Sir William Hershel – 1856
      The English first began using fingerprints in July of 1858, when Sir William Herschel, Chief Magistrate of the Hooghly district in Jungipoor, India, first used fingerprints on native contracts.


      Dr. Henry Faulds – 1880
      In 1880, Faulds forwarded an explanation of his classification system and a sample of the forms he had designed for recording inked impressions, to Sir Charles Darwin. Darwin, in advanced age and ill health, informed Dr. Faulds that he could be of no assistance to him, but promised to pass the materials on to his cousin, Francis Galton. Also in 1880, Dr. Faulds published an article in the Scientific Journal, "Nautre" (nature). He discussed fingerprints as a means of personal identification, and the use of printers ink as a method for obtaining such fingerprints. He is also credited with the first fingerprint identification of a greasy fingerprint left on an alcohol bottle.


      Gilbert Thompson – 1882
      In 1882, Gilbert Thompson of the U.S. Geological Survey in New Mexico, used his own fingerprints on a document to prevent forgery. This is the first known use of fingerprints in the United States.


      Sir Francis Galton – 1888
      A British anthropologist and a cousin of Charles Darwin, began his observations of fingerprints as a means of identification in the 1880's. In 1892, he published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints.
      Galton's primary interest in fingerprints was as an aid in determining heredity and racial background. He was able to scientifically prove what Herschel and Faulds already suspected: that fingerprints do not change over the course of an individual's lifetime, and that no two fingerprints are exactly the same. According to his calculations, the odds of two individual fingerprints being the same were 1 in 64 billion.
      Galton identified the characteristics by which fingerprints can be identified. These same characteristics are basically still in use today, and are often referred to as Galton's Details.


      1901 Introduction of fingerprints for criminal identification in England and Wales, using Galton's observations and revised by Sir Edward Richard Henry. Thus began the Henry Classification System, used even today in all English speaking countries.


      1902 First systematic use of fingerprints in the U.S. by the New York Civil Service Commission for testing. Dr. Henry P. DeForrest pioneers U.S. fingerprinting.
      1903 The New York State Prison system began the first systematic use of fingerprints in U.S. for criminals.


      1905 saw the use of fingerprints for the U.S. Army. Two years later the U.S. Navy started, and was joined the next year by the Marine Corp. During the next 25 years more and more law enforcement agencies join in the use of fingerprints as a means of personal identification. Many of these agencies began sending copies of their fingerprint cards to the National Bureau of Criminal Identification, which was established by the International Association of Police Chiefs.


      1924 An act of congress established the Identification Division of the F.B.I.. The National Bureau and Leavenworth consolidated to form the nucleus of the F.B.I. fingerprint files.


      1926 Harold Cummins, M.D. Doctor Cummins is universally acknowledged as the Father of Dermatoglyphics. Harold studied all aspects of fingerprint analysis, from anthropology to genetics, from embryology to the study of malformed hands with from two to seven fingers.(13) He pulled together the diverse work of his predecessors, added original research and set the standards of the field still in force to the present.


      1946 The F.B.I. had processed 100 million fingerprint cards in manually maintained files; and by 1971, 200 million cards. With the introduction of AFIS technology, the files were split into computerized criminal files and manually maintained civil files.


      From 1970, a large number of professional papers related to the dermatoglyphics were issued, and have proven that dermatoglyphics cannot be replaced in both physiology and psychology with great observation. Dermatoglyphics which is remarkable and changeless is analyzed and proven with evidence in anthropology, genetics, and statistics


      From 1992 to 1994 The professional papers about dermatoglyphics focused on particular genetic medicine fields such as sudden infant death syndrome, endometriosis, Alzheimer’s disease, auditory processing disorders, nasal cavities and tracheas, immunity diseases, Tuberculosis and down syndrome.


      1999 The FBI had planned to stop using paper fingerprint cards inside their new Integrated AFIS (IAFIS) site at Clarksburg WV. IAFIS will initially have individual computerized fingerprint records for approximately 33 million criminals. Old paper fingerprint cards for the civil files are still manually maintained in a warehouse facility in Fairmont, WV. The FBI hopes to someday classify and file these cards so they can be of value for unknown casualty identification. James Jasinski, the FBI's program manager for IAFIS, said the new system should cut down the time to run the process fingerprint-based background checks to two hours in criminal cases. He said traditional fingerprint background checks can take from eight days to three months - too long for many officials who need background checks conducted quickly so they can make quick decisions on conducting investigations or setting bail.


      2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society
      Nowadays the U.S., Japan or Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.